Hay, perkenalkan
nama saya Siti Nurlela. Sekarang saya duduk di bangku sekolah menengah atas,
yaitu di SMA Negeri 1 Jonggol. Pada tahu nggak smoeray (sebutan untuk sekolah
kami) dimana, aku kasih tahu nih. Alamatnya di Jalan Sukasirna No. 36 Jonggol.
Pokoknya yang catnya warna hijau. Sekolah ku ini terkenal dengan istilahnya
yaitu Kampus Hijau Berbudaya. Mungkin karena catnya warna hijau, bisa jadi.
Tiga tahun
sekolah di Jonggol banyak banget suka dukanya pasti. Kalau bisa di bilang
sekolah di Jonggol itu perjuangan. Perjuangan berangkat sekolah maupun
pulangnya. Pertama kali ke SMAN 1 Jonggol itu waktu masih kelas 3 SMP, lagi
menunggu kelulusan dan waktu itu kami berenam kesana. Saya yang memang pada
dasarnya tidak tahu dan itu pertama kali ke SMAN 1 Jonggol, ketika sampai
disana tepatnya di gerbang sekolah kami bertemu dengan satpam SMAN 1 Jonggol
yang kami bilang pada saat itu, galak.
Walaupun pada
awalnya saya tidak terlalu percaya bisa masuk SMAN 1 Jonggol, karena memang
melihat nilai akhir Ijazah SMP saya yang biasa saja. Maka dari itu saya
memutuskan untuk mendaftar ke dua SMA sekaligus. Dan alhamdulilah ketika hari
pengumuman diterima atau tidaknya, saya di katakan diterima sebagai murid SMAN
1 Jonggol. Pada saat itu tentunya saya sangat senang diterima di sekolah yang
memang saya inginkan.
Awal masuk
sekolah pertama kali, yaitu pada saat MOPD. Untuk pertama kalinya naik angkot
sendiri ke Jonggol, dan itu rasanya ***** terlalu susah untuk disebutkan.
Disini juga lah saya bertemu dengan teman SMA untuk pertama kalinya. Saya
bertemu dengan Siti Nurmelinda di angkot. Saya tidak pernah menyangka ketika
sekarang kami menjadi sangat dekat. Menjadi teman pulang bersama, teman pertama
saya Mel.
Ketika
pengumuman kelas X, lagi dan lagi saya sendiri. Tidak bersama teman smp saya.
Waktu itu saya duduk dengan teman ketika MOPD, yaitu Marina Dara Nurjanah. Saya
masuk kelas X-9, di X-9 inilah saya mempunyai teman dekat. Nadya Khairunnisa
Adila, Syifa Nur Annisa, Isnawati Nananuwari dan Iin Sutini. Kami berlima
menyebut kami sahabat, NAILI.
Ketika memasuki
kelas XI, ternyata kami berlima tidak satu jurusan, saya, Nadya, dan Anis masuk
jurusan ipa. Dan Iis dengan Iin masuk ips.
Ternyata saya masuk
kelas XI Ipa 5 dan ternyata saya satu kelas lagi dengan Nadya. Di kelas ini
kami berbaur dengan semuanya, walaupun pada awalnya terdapat kelompok-kelompok
tetapi pada akhirnya kita semua akan bersatu ketika pada saatnya. Kelas kami
ini terdiri dari 41 orang, yaitu Aldi Solihin, Berizky Pratama Abdurachim,
Bintari Pratidina Pratama, Bramantio Bagus Widiatmoko, Citra Ariesta, Daniel
Roberto Ramiraj, Elfridawati Sitohang, Eli Nurmala, Elvina Magdalena, Erika
Novia Hapsari, Emirzah Zein Hamzah, Fadila Awaliyah, Farouqh Yuda Bekti, Lina
Herlina, Muhamad Bilal, Mulyadi, Mutia Anggraeni, Nadia Permata Sari, Nadya
Khairunnisa Adila, Nan Mars Titto Yudistira, Nurfitria Istiqomah, Nuraeni,
Nurmulyanti, Nurul Sri Wulan, Patricia, Peni Yuliana, Putri Katni Lestari,
Ronaldo Simanjuntak, Rusmini, Satria Cipta Agung Pratana, Satriyo Dermawan,
Sigit Raharjo, Siti Nurlela, Siti Nurmelinda, Siti Sarah, Siti Zubaidah, Vera
Rachma Agustiningrum, Vivi Vahyuningsih, Widiastuti, Yuke ladesar dan Yusuf
Ansori.
Ternyata kelas XII
pun kami masih bersama, hanya namanya saja yang berubah yaitu XII Ipa 1. Dan
lagi-lagi wali kelas saya adalah guru Biologi. Kelas X Pak Deddy Junaedi ( pa Dejan),
kelas XI Pak Nugraha (pa Nunu), dan kelas XII kembali ke Pa Dejan.
Di kelas XII Ipa
1 (KATALIS) inilah kami merasakan kalau kami ini bukan hanya sekedar teman tapi
keluarga. Bersama-sama ketika di marahin guru, sampai yang terakhir bolos
bimbel bareng-bareng walaupun tidak semuanya ikut. Kami ini 41 orang yang
masing-masing mempunyai sita yang berbeda. Ada yang bawel, cerewet, pendiam
tapi kalau lagi kumpul bareng nggak ada lagi yang pendiam semuanya sama. Dikelas
ini juga, kami merasakankehilangan salah satu keluarga kami, yaitu perginya Nan
Mars Titto Yudistira. Tidak ada lagi Ustadj katalis, tidak ada lagi yang
memimpin tadarusan setiap pagi, ataupun memimpin doa. Kami merasakan duka yang
paling dalam, dan kami menyadari bahwa kami itu satu keluarga. Walaupun kami
sering berselisih tetapi pada dasarnya kami itu saling menyayangi.
Kesan pesan sekolah di SMAN 1
Jonggol :
Kesan sekolah di
Smoeray itu banyak banget, dari mulai kelas X. Rasanya masuk siang, pulang jam
setengah 6, harus nunggu angkotnya lama. Dan ngerasain nggak ada angkot,
alhasil dari sekolah sampai alun-alun harus jalan. Pulang sampai rumah jam 7
bahkan jam 8 itu pernah, kalau hujan ataupun yang lebih sering nunggu angkotnya
itu. Ataupun merasa menjadi anak buangan ketika banyak yang bilang kelas X-9
adalah kelas buangan, tetapi itu hanya kata orang. Menurut kami, kami adalah
kelas spesial.
Kesan kelas XI
itu banyak banget, tapi yang paking di ingat adalah ketika kami ospela ke
Yogya, disana kami seperti keluarga.
Kelas XII, kami
merasa semakin dekat. Walaupun pada awalnya banyak yang berselisih, yang
tadinya suka main bareng tiba-tiba harus jauh karena permasalahan tertentu.
Kami mungkin memang jarang ikut campur ketika salah satu dari kami sedang ada
masalah dengan teman lainnya, tapi walaupun begitu kami selalu memperhatikan
dan tahu ketika mereka ada masalah. Bukannya keluarga adalah yang akan
mendukung setiap keputusan apapun yang dilakukan oleh anggota keluarganya yang
lain. Tetapi kami tahu ketika mereka membutuhkan dekapan seorang keluarga kami
akan merangkulnya. Walaupun kami saling berselisih tapi pada akhirnya kami
tahu, kami itu saling membutuhkan. Wajar kan ketika keluarga sedikit berselisih
dalam beradu pendapat. Itulah bumbu agar kami lebih dekat lagi.
Di kelas XII ini
kami sering main kerumah teman bersama, mungkin hanya untuk merepotkan keluarga
yang kami datangi rumahnya. Karena jika kita main kerumah teman kami akan pergi
dengan satu gerombolan alias banyak, bagaimana tidak membuat bangkrut. Saling
mengejek satu sama lain itu sudah menjadi hal biasa di katalis, walaupun begitu
kami tahu itu hanya bercanda saja. Bernyanyi bersam ketika tidak ada guru,
ataupun bersorak gembira ketika guru tidak ada. Dan sedih ketika harus tahu
guru yang sedikit ***** masuk kelas. Dan bekerja sama ketika dalam kesusahan,
ketika satu orang belum mengumpulkan tugas kami akan menunggunya dan
mengumpulkan bersama, terkadang sih.
Pesan:
Masa-masa SMA
itu masa yang tidak akan bisa terulang lagi. Masa dimana kita menjadi lebih
dewasa dalam berfikir, masa dimana kita memiliki satu keluarga baru. Ketika
salah satu dari keluarga kita berselisih, disanalah kita tahu kalau kita adalah
keluarga.
Buatlah Kampus kita ini semakin
Hijau dan Berbudaya.
Salam,
Siti Nurlela
asalamualaikum,
BalasHapuskami mohon di bukakan maaf yang seluas luasnya buat anak kami kaka titto semoga diterima amal ibadah nya di terima amal islam nya dan di ampuni semua salah nya .selamat jalan anakku tercinta aku rindu ......