Sabtu, 01 Maret 2014

kesan dan pesan SMAN 1 Jonggol


Hay, perkenalkan nama saya Siti Nurlela. Sekarang saya duduk di bangku sekolah menengah atas, yaitu di SMA Negeri 1 Jonggol. Pada tahu nggak smoeray (sebutan untuk sekolah kami) dimana, aku kasih tahu nih. Alamatnya di Jalan Sukasirna No. 36 Jonggol. Pokoknya yang catnya warna hijau. Sekolah ku ini terkenal dengan istilahnya yaitu Kampus Hijau Berbudaya. Mungkin karena catnya warna hijau, bisa jadi.
Tiga tahun sekolah di Jonggol banyak banget suka dukanya pasti. Kalau bisa di bilang sekolah di Jonggol itu perjuangan. Perjuangan berangkat sekolah maupun pulangnya. Pertama kali ke SMAN 1 Jonggol itu waktu masih kelas 3 SMP, lagi menunggu kelulusan dan waktu itu kami berenam kesana. Saya yang memang pada dasarnya tidak tahu dan itu pertama kali ke SMAN 1 Jonggol, ketika sampai disana tepatnya di gerbang sekolah kami bertemu dengan satpam SMAN 1 Jonggol yang kami bilang pada saat itu, galak.
Walaupun pada awalnya saya tidak terlalu percaya bisa masuk SMAN 1 Jonggol, karena memang melihat nilai akhir Ijazah SMP saya yang biasa saja. Maka dari itu saya memutuskan untuk mendaftar ke dua SMA sekaligus. Dan alhamdulilah ketika hari pengumuman diterima atau tidaknya, saya di katakan diterima sebagai murid SMAN 1 Jonggol. Pada saat itu tentunya saya sangat senang diterima di sekolah yang memang saya inginkan.
Awal masuk sekolah pertama kali, yaitu pada saat MOPD. Untuk pertama kalinya naik angkot sendiri ke Jonggol, dan itu rasanya ***** terlalu susah untuk disebutkan. Disini juga lah saya bertemu dengan teman SMA untuk pertama kalinya. Saya bertemu dengan Siti Nurmelinda di angkot. Saya tidak pernah menyangka ketika sekarang kami menjadi sangat dekat. Menjadi teman pulang bersama, teman pertama saya Mel.
Ketika pengumuman kelas X, lagi dan lagi saya sendiri. Tidak bersama teman smp saya. Waktu itu saya duduk dengan teman ketika MOPD, yaitu Marina Dara Nurjanah. Saya masuk kelas X-9, di X-9 inilah saya mempunyai teman dekat. Nadya Khairunnisa Adila, Syifa Nur Annisa, Isnawati Nananuwari dan Iin Sutini. Kami berlima menyebut kami sahabat, NAILI.
Ketika memasuki kelas XI, ternyata kami berlima tidak satu jurusan, saya, Nadya, dan Anis masuk jurusan ipa. Dan Iis dengan Iin masuk ips.
Ternyata saya masuk kelas XI Ipa 5 dan ternyata saya satu kelas lagi dengan Nadya. Di kelas ini kami berbaur dengan semuanya, walaupun pada awalnya terdapat kelompok-kelompok tetapi pada akhirnya kita semua akan bersatu ketika pada saatnya. Kelas kami ini terdiri dari 41 orang, yaitu Aldi Solihin, Berizky Pratama Abdurachim, Bintari Pratidina Pratama, Bramantio Bagus Widiatmoko, Citra Ariesta, Daniel Roberto Ramiraj, Elfridawati Sitohang, Eli Nurmala, Elvina Magdalena, Erika Novia Hapsari, Emirzah Zein Hamzah, Fadila Awaliyah, Farouqh Yuda Bekti, Lina Herlina, Muhamad Bilal, Mulyadi, Mutia Anggraeni, Nadia Permata Sari, Nadya Khairunnisa Adila, Nan Mars Titto Yudistira, Nurfitria Istiqomah, Nuraeni, Nurmulyanti, Nurul Sri Wulan, Patricia, Peni Yuliana, Putri Katni Lestari, Ronaldo Simanjuntak, Rusmini, Satria Cipta Agung Pratana, Satriyo Dermawan, Sigit Raharjo, Siti Nurlela, Siti Nurmelinda, Siti Sarah, Siti Zubaidah, Vera Rachma Agustiningrum, Vivi Vahyuningsih, Widiastuti, Yuke ladesar dan Yusuf Ansori.
Ternyata kelas XII pun kami masih bersama, hanya namanya saja yang berubah yaitu XII Ipa 1. Dan lagi-lagi wali kelas saya adalah guru Biologi. Kelas X Pak Deddy Junaedi ( pa Dejan), kelas XI Pak Nugraha (pa Nunu), dan kelas XII kembali ke Pa Dejan.
Di kelas XII Ipa 1 (KATALIS) inilah kami merasakan kalau kami ini bukan hanya sekedar teman tapi keluarga. Bersama-sama ketika di marahin guru, sampai yang terakhir bolos bimbel bareng-bareng walaupun tidak semuanya ikut. Kami ini 41 orang yang masing-masing mempunyai sita yang berbeda. Ada yang bawel, cerewet, pendiam tapi kalau lagi kumpul bareng nggak ada lagi yang pendiam semuanya sama. Dikelas ini juga, kami merasakankehilangan salah satu keluarga kami, yaitu perginya Nan Mars Titto Yudistira. Tidak ada lagi Ustadj katalis, tidak ada lagi yang memimpin tadarusan setiap pagi, ataupun memimpin doa. Kami merasakan duka yang paling dalam, dan kami menyadari bahwa kami itu satu keluarga. Walaupun kami sering berselisih tetapi pada dasarnya kami itu saling menyayangi.

Kesan pesan sekolah di SMAN 1 Jonggol :
Kesan sekolah di Smoeray itu banyak banget, dari mulai kelas X. Rasanya masuk siang, pulang jam setengah 6, harus nunggu angkotnya lama. Dan ngerasain nggak ada angkot, alhasil dari sekolah sampai alun-alun harus jalan. Pulang sampai rumah jam 7 bahkan jam 8 itu pernah, kalau hujan ataupun yang lebih sering nunggu angkotnya itu. Ataupun merasa menjadi anak buangan ketika banyak yang bilang kelas X-9 adalah kelas buangan, tetapi itu hanya kata orang. Menurut kami, kami adalah kelas spesial.
Kesan kelas XI itu banyak banget, tapi yang paking di ingat adalah ketika kami ospela ke Yogya, disana kami seperti keluarga.
Kelas XII, kami merasa semakin dekat. Walaupun pada awalnya banyak yang berselisih, yang tadinya suka main bareng tiba-tiba harus jauh karena permasalahan tertentu. Kami mungkin memang jarang ikut campur ketika salah satu dari kami sedang ada masalah dengan teman lainnya, tapi walaupun begitu kami selalu memperhatikan dan tahu ketika mereka ada masalah. Bukannya keluarga adalah yang akan mendukung setiap keputusan apapun yang dilakukan oleh anggota keluarganya yang lain. Tetapi kami tahu ketika mereka membutuhkan dekapan seorang keluarga kami akan merangkulnya. Walaupun kami saling berselisih tapi pada akhirnya kami tahu, kami itu saling membutuhkan. Wajar kan ketika keluarga sedikit berselisih dalam beradu pendapat. Itulah bumbu agar kami lebih dekat lagi.
Di kelas XII ini kami sering main kerumah teman bersama, mungkin hanya untuk merepotkan keluarga yang kami datangi rumahnya. Karena jika kita main kerumah teman kami akan pergi dengan satu gerombolan alias banyak, bagaimana tidak membuat bangkrut. Saling mengejek satu sama lain itu sudah menjadi hal biasa di katalis, walaupun begitu kami tahu itu hanya bercanda saja. Bernyanyi bersam ketika tidak ada guru, ataupun bersorak gembira ketika guru tidak ada. Dan sedih ketika harus tahu guru yang sedikit ***** masuk kelas. Dan bekerja sama ketika dalam kesusahan, ketika satu orang belum mengumpulkan tugas kami akan menunggunya dan mengumpulkan bersama, terkadang sih.

Pesan:
Masa-masa SMA itu masa yang tidak akan bisa terulang lagi. Masa dimana kita menjadi lebih dewasa dalam berfikir, masa dimana kita memiliki satu keluarga baru. Ketika salah satu dari keluarga kita berselisih, disanalah kita tahu kalau kita adalah keluarga.
Buatlah Kampus kita ini semakin Hijau dan Berbudaya.


Salam,
Siti Nurlela